Ana Uhibbukum Fillah
Tampilkan postingan dengan label Idealisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idealisme. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 April 2010

Sekilas, ketika kata pendidikan terlintas dalam benak para pelajar, maka apa yang akan muncul pada fikiran mereka? Seragam putih, kelas yang terkadang begitu mengancam, mayoritas guru yang keras, juga sistem yang cenderung otoriter. Begitulah mungkin kata pendidikan terkonsep sedemikian rupa dalam perspektif mayoritas pelajar Indonesia, dengan kecenderungan keras bahwa segala hal yang berbau pendidikan berarti harus memasuki satu lembaga formal bernama sekolah. Dan ironinya, seluk beluk sekolah yang kontradiktif dan sering kali menakut-nakuti para pelajar juga harus terbawa ketika kata pendidikan melintas di fikiran mereka. Imbasnya, segala hal yang berbau pendidikan haruslah selalu mengancam dan menakutkan. Dan dalam realita seperti ini, bagaimanakah para pelajar dapat meraih haknya dalam memperoleh pendidikan sehingga dapat terwujud kader-kader bangsa yang unggul dari kualitas dan kuantitasnya? Mungkinkah sekolah yang sekarang melandasi kita dalam memperoleh pendidikan telah benar-benar bekerja secara fungsional sesuai dengan visi pendidikan itu sendiri, yaitu untuk menyalurkan ilmu dari genarasi ke generasi, atau hanya sekedar melegalisir para remaja dengan seragam dan perangkat lainnya sehingga dapat benar-benar disebut pelajar?
Sejenak mari kita renungkan proses pendidikan sebelum sekarang, yang seringkali terkenal ortodok, jumud, dan kuno.
Dulu, pendidikan disampaikan melalui tembang, kidung, puisi, juga cerita kepahlawanan. Berbagai tokoh agama telah mengambil eksistensi penting di sini. Karena bagaimanapun, pokok-pokok pendidikan mempunyai relasi langsung dengan ajaran agama itu sendiri. Seperti sejak abad 30SM, di Mesir orang-orang sudah memulai metode seperti ini dengan sumber Kitab Taurat dan Talmud. Atau sejak tahun 1200 SM, pendeta Hindu sudah mulai melaksanakan metode ini di lembah Indus dengan Kitab Vedanya.
Untuk kawasan Eropa, pendidikan mengalami revolusi sejak lahirnya pemikir-pemikir seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles, setelah sebelumnya pendidikan tersebut mendapat pengaruh besar dari cerita-cerita kuno seperti Iliad, Odyssey, dan lain sebagainya. Dan dari sini mulailah terjadi perkembangan pada sistem pendidikan. Seperti halnya di kawasan romawi abad pertama, di mana pendidikan lebih diorentasikan pada keorganisasian. Imbasnya, penguasaan massa, pidato, dan segala hal tentang keorganisasian menjadi substansi dari pendidikan itu sendiri.
Seiring berjalannya waktu, pendidikan mengalami evolusi sesuai dengan keadaan sosial yang terjadi waku itu. Seperti halnya yang terjadi di abad 17, di mana Rene Descartes lebih menitik beratkan pendidikan pada bidang filsafat, Wolfgan Ratke pada bidang bahasa atau John Locke yang cenderung pada pertanian, pegembangan kreatifitas, dan kesegaran jasmani dengan sinkronisasi pada keadaan sosial waktu itu.
Barulah di abad 19 mulai adanya pembaharuan-pembaharuan sistem pendidikan yang akhirnya kita sebut dengan pendidikan modern. Pada abad ini mulai lahir gagasan bahwa pendidikan sebaiknya disama ratakan, dalam artian materi pengajaran disesuaikan menurut standar nsional. Dan pada abad 20, akhirnya gagasan ini diperkuat Ellen Key dengan pernyataannya bahwa pendidikan harus dilaksanakan sesuai kemampuan anak didik, bukan karena kebutuhan sosial golongan.
Setelah mengalami berbagai revolusi, sampailah pendidikan pada sistem yang ita kenal sekarang. Dan khususnya untuk negara kita, dengan berbagai atribut, metode dan sistem yang kerap kali berubah-ubah. Akan tetapi, dengan adanya sistem modern seperi ini, secara faktual para pelajar mengindikasikan hal-hal yang kontradiktif. Karena tak sedikit terjadi masalah dengan ketidak sesuaian di kelas, doktrin-doktrin tentang guru: terlalu radikal, kurang perhatian, dan lain sebagainya, bahkan sampai pada tawuran antar pelajar sebagai indikasi dari dekadensi moral. Lantas, jika dibandingkan, bukankah saat tak ada sistem seperti sekarang (melalui metode yang kita anggap kuno), lahir tokoh-tokoh dunia seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles, yang buah fikirannya mendominasi pemikiran-pemikiran kontemporer? Dengan keadaan seperti ini, bukankah lebih baik pendidikan dilakukan sesuai metode zaman dulu, atau bahkan tanpa sekolah?
Secara ideal, sekolah merupakan sarana yang sangat cocok dalam melakukan proses pendidikan (dan karena itulah di sini sangat diorentasikan pada permasalahan seputar sekolah). Peraturan, sistem, dan fasilitas yang memadai merupakan indikasi penting bahwa sekolah diatur dengan manajemen yang baik. Dan bagaimanapun, pendidikan yang telah diatur dengan metode sedemikian rupa hasilnya cenderung akan lebih baik. Akan tetapi, secara faktual ternyata yang terjadi secara dominan adalah hal-hal kontradiktif. Secara garis besar, ada dua macam faktor yang berpengaruh penting di sini, yaitu faktor internal mengenai kepribadian seorang pelajar, dan faktor eksternal, yaitu teman, keluarga, guru dan peraturan. Dan di sinilah diperlukan adanya peran aktif remaja sebagai pelajar, juga kader bangsa yang terdidik untuk menanganinya, sehingga diharapkan dapat tercipta situasi pembelajaran yang kondusif, efektif, dan efisien.
Pertama, faktor internal mengenai kepribadian pelajar. Di sini masalah yang terjadi tidak begitu kompleks, karena secara dominan telah dipengaruhi faktor-faktor eksternal yang akan dijelaskan kemudian. Secara garis besar, masalah yang perlu diperhatikan pada aspek ini adalah bagaimana remaja memahami kondisi lingkungannya dan reaksi yang terjadi setelah itu. Dalam hal ini lebih diaksentuasikan pada remaja karena problematika di masa remaja sangatlah komplels, padahal masa remaja adalah masa di mana semuanya mulai dibentuk (jati diri, kepribadian, pola hidup, dan lain sebagainya). Seperti yang diungkapkan Sean Covey,
“Bayangkan seutas tambang sepanjang delapan puluh kaki terpampang di depanmu. Setiap kaki mewakili satu tahun usiamu. Masa remaja hanya tujuh tahun, begitu singkat, tetapi ketujuh tahun itu memengaruhi enam puluh satu sisanya.”
Di sini remaja berperan penting dalam pembentukan kepribadiannya sebagai pelajar yang ideal, agar tidak terbawa arus jika ligkungan sekolahnya lebih mencerminkan kebiasaan negatif. Seperti yang telah dikemukakan sebelumnhya, pemahaman tentang kondisi lingkungan akan baik dan buruknya juga kesadaran akan eksistensi remaja yang ideal sangatlah penting. Dengan kata lain, remaja berperan untuk menempatkan dirinya sendiri dalam ruang-ruang positif bagaimanapun kondisi lingkungan sekitarnya.
Akan tetapi, dengan begitu kompleksnya problematika masa remaja atau hal-hal yang masih bias tapi cenderung dipandang negatif, besar kemungkinan paradigma remaja akan berubah secara sinkron dengan pola hidup lingkungan yang akhirnya terealisasi lewat perlakuan nyata dan lebih parah lagi hal itu akan membudaya di kalangan pelajar, sehingga eksistensi remaja sebagai pelajar seakan berubah. Seperti halnya ketika dalam satu lingkungan kelas mayoritas pelajarnya sering bolos, maka setidaknya palajar yang lain akan meganggap bahwa bolos adalah hal biasa. Yang karena paradigma seperti demikian, maka pelajar yang lainpun melakukan hal yang sama. Setelah beberapa kali dilakukan, akhirnya bolos menjadi satu budaya dan ironinya, terkadang timbul anggapan bahwa pelajar yang tidak pernah bolos adalah pelajaryang tidak normal. Dan secara tidak langsung hal ini melegalisir bahwa bolos merupakan satu predikat pelajar ideal. Di sinilah benar-benar diperlukan adanya pemahaman pelajar tentang lingkungannya (dalam hal ini sekolah) yang secara teknis diantaranya dapat dilakukan dengan berperan aktif di organisasi-organisasi pelajar.
Kedua, faktor eksternal yang secara garis besar meliputi teman, keluarga, guru, dan peraturan. Di sinilah problematika masa remaja terasa begitu kompleks.
Di sini teman menempati urutan pertama atau faktor terbesar yang mempengaruhi kehidupan seorang remaja. Karena seringnya bergaul dan berkomunikasi antar sesama teman, maka tercipta satu bentuk solidaritas yang sangat tinggi. Dengan situasi seperti ini, maka tidak heran jika banyak remaja yang mengikuti segala hal agar terjadi kesinkronan dengan teman-temannya, suka atau tidak, positif atau negatif.
Pada umumnya ada dua permasalahan ini di sini. Pertama, jika lingkungan/pergaulan teman seorang pelajar cenderung negatif, dan ke dua, kecenderungan mengikuti apapun kebiasaan seorang teman demi sinkronisasi, baik itu postif maupun negatif.
Untuk lingkungan dengan kecenderungan pergaulan negatif, maka pada kawasan inilah perlu adanya paradigma remaja yang benar-benar dewasa. Karena secara faktual, pola hidup seorang remaja banyak berubah dengan lingkungan seperti ini. Juga terbukti bahwa kecenderungan solidaritas dalam lingkungan seperti ini sangatlah kuat, di mana dedikasi seseorang kepada teman dan kelompoknya mayoritas melebihi apapun. Sehingga pengorbanan menjadi bagian dari proses pertemanan, yang sayangnya, dalam hal ini pengorbanan mengalami reduksi kata yang kontradiktif, dan banyak dijadikan alas an untuk memperbaiki citra suatu perbuatan negatif.
Selanjutnya, masalah yang timbul dalam lingkup pertemanan adalah sinkronisasi. Disadari atau tidak, seorang remaja akan lebih direspon dan diakui eksistensinya ketika ia sinkron dengan teman atau kelompoknya dalam berbagai aspek. Saat mayoritas pelajar dalam satu kelas terbiasa datang terlambat, maka eksistensi pelajar yang senang tepat waktu dalam lingkungan tersebut terasa tidak bersahabat. Dalam keadaan seperti ini, kecenderungan remaja lebih memilih untuk meninggalkan kebiasaannya, dan Mengikuti kelompoknya. Atau jika lingkungannya terbiasa dengan hal positif. Yang menjadi masalah di sini bukanlah perubahan dari kebiasaan negatif menuju positif, tapi tidak tentunya kepribadian. Yang imbasnya akan timbul ketergantungan pada lingkungan yang dan dikhawatirkan adalah ketika remaja tersebut kembali pada lngkungan negatif. Dan inti permasalahannya adalah eksistensi remaja tersebut dikendalikan oleh lingkungan, yang idealnya dialah yang mengendalikan, minimalnya untuk dirinya sendiri, dan lebihnya untuk lingkungan.
Dengan semua realita seperti ini, (dalam lingkkup teman), seringkali timbul anggapan bahwa solusi terbaik adalah menjauhi semua teman yang cenderung negatif, dan mencari teman dengan segala sifat positif. Akan tetapi timbul masalah baru, bukankah dengan cara seperti ini telah benar-bnar lahir anggapan bahwa pada orang-orang yang dianggap baik telah benar-benar terdapat sifat baik yang absolut, dan dalam orang-oang yang dianggap negatif benar-benar terdapat sifat buruk yang absolut? Jika dihadapkan dengan konsep yang ideal, bukankah setiap otrang mempunyai sisi positif dan negatifnya masing-masing? Dengan demikian, maka peran remaja yang terpenting di sini bukanlah memilih teman, akan tetapi menempatkan eksistensinya sebagai teman yang benar-benar teman, dalam artian dapat menemani temannya dalam waktu yang dibutuhkan. Ketika ada beberapa pelajar yang sering terlambat, maka pada dasarnya pelajar tersebut membutuhkan teman yang dapat mengatasi keterlambatannya. Sehingga jelas, peran remaja dalam hal ini bukan malah menambah kebutuhan temannya dengan ikut terlambat, akan tetapi memberinya solusi dengan berbagai cara untuk mengatasi keterlambatannya. Bukankah Islam adalah rahmatan li `alamin? Teringat akan kata-kata bijak,
“Ketika kamu melihat laut yang tercemar, maka jernihkanlah laut tersebut, dan tidak ikut tercemar di dalamnya. Atau ketika kamu melihat hutan gundul yang gersang, maka hijaukanlah kembali hutan itu.”
Faktor eksternal kedua adalah keluarga. Masalah yang terjadi pada keluarga pestilah harus terbawa pada semua aspek kehidupan, termasuk pada pendidikan. Seorang yang mempunyai masalah pada keluarganya seperti pertengkaran orang tua, atau masalah ekonomi akan terlihat menyimpan sesuatu yang berbeda, dan semangat belajarnya menurun derastis. Hal ini disebabkan diantaranya karena rasa memiliki remaja terhadap keluarga yang sangat minim.
Adapun di sini, remaja berperan untuk ikut andil lebih dalam pada lingkup keluarga. Dengan aktif berperan seperti ikut ambil bagian dalam musyawarah keluarga secara baik juga mematuhi nasihat orang tua dengan segala kesadaran, maka akan timbul rasa memahami, yang akhirnya menumbuhkan rasa memiliki akan keluarga itu sendiri. Dengan demikian, remaja akan cenderung berperilaku sebagai subjek daripada objek. Dalam artian masalah-masalah yang datang dari keluarga akan senantiasa ditanggapi dengan kata bagaimana, bukan dengan kata mengapa. Sehingga, pendidikan tidak akan terlalu terganggu dengan adanya masalah keluarga.
Faktor ketiga adalah guru. Terkadang guru terasa begitu otoriter, sehingga mambuat kondisi kelas sangat membosankan. Atau juga sebagian ada yang galak, dan membuat kelas seakan di neraka. Dan masih banyak lagi karakter lain yang dengannya situasi kelas dibentuk.
Untuk menghadapi masalah ini, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, menerimanya dengan bijak, kedua, memperbaikinya secara efektif.
Pertama,menerimanya dengan bijak. Adakalanya karakter guru yang tidak relevan dengan aturan pembelajaran menurut peersepsi pelajar menjadi masalah karena kekurangan pelajar dalam memandang baik buruknya sesuatu. Terkadang sesuatu dianggap baik hanya karena kesinkronan dengan hati penilainya. Secara sekilas, tanpa memerhatikan efek jangka panjangnya. Bukankah inti dari pembelajaran adalah membentuk para cendikiawan dan bukan melakukan hal-hal yang selalu sekehendak hati? Bukankah di satu waktu seseorang harus berjuang dan berkorban untuk mendapat sesuatu? Maka di sini pelajar berperan dalam mengubah paradigmanya sendiri. Seperti halnya ketika disodorkan pada banyak tugas, maka mayoritas akan memandang guru dengan persepsi negatif, dan dengan begitu terciptalah situasi belajar yang buruk. Tapi jika paradigma tersebut diubah, dengan menyadari bahwa latihan adalah sesuatu yang penting dan harus dilakukan, juga guru semata-mata memberikan tugas tersebut untuk kepentingan pelajarnya, maka kondisi pembelajaran akan berlangsung dengan lebih kondusif.
Kedua, memperbaikinya secara efektif. Untuk melakukan hal ini, diperlukan adanya waawasan yang cukup tentang baik dan buruknya teknis pengajaran, juga keefektifannya dengan kondisi kelas. Jika dengan paradigma yang matang, pandangan jauh ke depan, juga disertai fakta akan ketikak efektifan teknis pengajaran seorang guru untuk suatu kelas, maka bagaimanapun hal seperti ini harus diperbaiki. Karena dalam satu waktu suatu cara dapat berubah baik buruknya tergantung pada keadaan. Dan yang perlu diperhatikan di sini adalah teknis perbaikannya, agar dapat dilakukan secara efektif. Contohnya dapat dilakukan dengan berbicara langsung secara baik di luar jam pelajaran, atau secara tersirat ketika ada momentum yang memfasilitasinya, seperti drama, pidato, dan lain sebagainya.
Faktor keempat adalah tatatertib. Pada dasarnya, sama seperti guru, di satu sisi perlu adanya kesadaran dan perubahan paradigma seorang pelajar dalam memandang tatatertib. Yang berbeda di sini adalah tata tertib cenderung menunjukkan sesutu yang membawa dampak positif, sehingga kecil kemungkinan perlu adanya perbaikan dari pelajar. Tapi yang berbeda di sini yaitu kurangnya perhatian dalam pelaksanaan yang ironinya sering kali juga dilakukan oleh aparatur sekolah. Sehingga disaari atau tidak, timbul kegalauan pada hati pelajar tentang pelaksanaan tatatertib tersebut. Di mana pelanggaran tatatertib yang dilakukan oleh guru secara tersirat mengandung pembelajaran terhadap murid-muridnya. Dengan keadaan seperti ini, maka peran pelajar tidak terfokus pada perbaikan tatatertib, akan tetapi cenderung pada usaha pelaksanaan tatatertib tersebut oleh berbagai pihak, yang secara teknis dapat dilakukan dengan tidak melakukan pelanggaran terhadap tatatertib, tidak mencontoh jika satu waktu terdapat guru yang melakukannya (pelanggaran) sehingga timbul rasa sungkan di hati guru tersebut untuk mengulanginya, atau dengan langsung berkonsultasi pada kepala sekolah dengan sikap seorang guru yang terbukti demikian.
Akhirnya, dengan semua hal tersebut diharapkan para remaja sebagai pelajar turut aktif berperan dalam jalannya pendidikan. Yang mana, setelah pendidikan dapat terlaksana secara efektif dan efisien, maka besar kemungkinan dapat terwujud kecerdasan di kalangan para pelajar sebagai kader-kader bangsa yang akan menentukan eksistensi Tanah Air Indonesia di masa mendatang.

Meneladani Kepemimpinan Khalifah dan Baginda Rasulullah SAW

Meneladani Kepemimpinan Khalifah dan Baginda Rasulullah SAW

Pada suatu ketika dikisahkan bahwa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz ketika sedang memberikan ceramah di depan rakyatnya, beliau berceramah sambil mengibas-ngibaskan bajunya. Setelah selesai ceramah, salah seorang sahabat menghampiri beliau dan bertanya, “Baginda, ada apa gerangan engkau mengikas-ngipaskan bajumu?”. Kemudian Khalifah Umar menjawab “Bajuku basah, aku cuma punya satu baju, tadi aku cuci dan sekarang aku pakai kembali”.
Mendengar jawaban tersebut tentu saja sahabat sangat kaget. Sahabat kemudian bertanya “Mengapa engkau tidak membeli baju saja dari dana Baitul Mal, engkau adalah pemimpin kami”. Mendengar pertanyaan tersebut khalifah umar kembali menjawab “Ah tidak usah, Aku tidak ingin memberatkan dana umat”.
Luar biasa. Pada waktu kepemimpinan Khalifah Umar, semua rakyatnya makmur. Saat itu di seluruh negeri tidak lagi terdapat mustahiq. Semua orang sudah tergolong muzakki. Panitia zakat sampai bingung akan kemana menyalurkan zakatnya.
Dengan kondisi seperti itu, adalah merupakan hal yang luar biasa ketika seorang pemimpin bahkan tidak mau menggunakan sepeser pun dari uang negara walaupun hanya untuk membeli baju yang padahal digunakan untuk kepentingan negara. Tentu saja ketika itu dana di baitul mal padahal sangat melimpah.
Baginda Rasulullah SAW pun mencontohkan hal yang sama. Masih ingatkah kita dengan cerita Rasulullah menganjal perutnya untuk menahan lapar? Salah seorang sahabat yang mengetahui hal tersebut pernah protes kepada Rasul perihal ini. Sahabat tersebut bertanya kepada Rasul,  “Sebegitu rendahnyakah kami di matamu wahai Baginda,  sampai-sampai engkau tidak mau memberi tahu hal ini kepada kami? Apakah Engkau beranggapan bahwa kami tidak akan membantumu?” Mendengar pertanyaan tersebut, Rasullah menjawab “Wahai sahabat, apa artinya aku sebagai seorang pemimpin kalau aku hanya memberatkan?”.
Dalam cerita lain dikisahkan, suatu ketika sahabat datang ke rumah baginda Rasulullah. Rumah Rasulullah sangat sederhana, hanya diterangi oleh sebuah lilin sebagai penerangan. Sahabat datang kepada Rasulullah untuk bercerita tentang sesuatu. Sebelum bercerita Baginda Rasulullah bertanya dahulu kepada sahabat “Apakah urusan yang akan engkau sampaikan adalah urusan umat atau urusan pribadi?”. Sahabat kemudian menjawab bahwa urusan yang akan ia bicarakan adalah urusan pribadi. Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah langsung mematikan lilin yang ada di rumahnya dengan alasan bahwa lilin tersebut adalah milik negara. Tidak boleh digunakan untuk urusan pribadi.
Apa yang telah dicontohkan oleh pemimpin-pemimpin kita pada zaman dahulu tersebut adalah sesuatu yang sangat luar biasa, bagaimana mereka sebagai seorang pemimpin sama sekali tidak mau memberatkan rakyatnya. Seorang Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang ketika itu rakyatnya semua makmur dan dana umat melimpah bahkan tidak mau sedikitpun menggunakan dana tersebut untuk membeli bajunya yang padahal digunakan ketika ia bertugas sebagai Khalifah.
Baginda Rasullah pun begitu luar biasa. Sebagai seorang pemimpin, beliau sama sekali tidak ingin memberatkan rakyatnya. Padahal hidup beliau cukup memprihatinkan dimana beliau bahkan harus mengganjal perut dengan batu untuk menahan lapar. Tapi beliau tidak pernah mengeluh sedikit pun tentang kondisi ini.
Hal ini sangat kontradiktif dengan apa yang terjadi sekarang. Di negeri ini dimana masih banyak anak jalanan dan orang meminta-minta di persimpangan-persimpangan jalan, para pemimpin kita malah mengaggarkan belanja negara untuk membeli mobil dinas mewah, renovasi rumah yang masih layak tinggal, ataupun membeli pesawat.
Tentu saja dana yang digunakan untuk keperluan tersebut adalah dari pajak yang tidak lain adalah dana masyarakat. Sungguh sebuah ironi. Kalau saja saat ini semua pemimpin kita dapat meneladani kisah di atas, tentu hal ini tidak akan terjadi.
Mudah-mudahan kita semua dilindungi oleh Allah dari menjadi pemimpin yang tidak amanah. amiiin…
http://auliafeizal.wordpress.com

Senin, 19 April 2010

Kepemimpinan Dalam Organisasi

Kepemimpinan Dalam Organisasi
oleh Ustdz.ELA NURLELA
Dalam kenyataannya para pemimpin dapat mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kwalitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Para pemimpin juga memainkan paranan kritis dalam membantu kelompok, organisasi atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka. Kemudian timbul pertanyaan yang membuat seorang pemimpinan effektif? Apa Hampir semua orang, bila diajukan pertanyaan itu akan menjawab bahwa pemimpin yang effektif mempunyai sifat atau kualitas tertentu yang diinginkan.
Kemampuan den ketrampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting effektifitas manajer. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas–kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan, kemampuan untuk menseleksi pemimpin-pemimpin efektif akan meningkat. Dan bila organisasi dapat mengidentifikasikan perilaku dan teknik-teknik kepemimpinan efektif, akan dicapai pengembangan efektifitas personalis dalam organisasi.
A. Arti Kepemimpinan dan Manajemen Yang Fungsi Melaksanakan Kepemimpinan
Dalam praktek sehari-hari, seoring diartikan sama antara pemimpin dan kepemimpinan, padahal macam pengertian tersebut berbeda. Pemimpin kedua adalah orang yang tugasnya memimpin, sedang kepemimpinan adalah bakat dan atau sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin.
Setiap orang mempunyai pengaruh atas pihak lain, dengan latihan dan peningkatan pengetahuan oleh pihak maka pengaruh tersebut akan bertambah dan berkembang. Kepemimpinan membutuhkan penggunaan kemampuan secara aktif untuk mempengaruhi pihak lain dan dalam wujudkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan lebih dahulu. Dewasa ini kebanyakan para ahli beranggapan bahwa setiap orang dapat mengembangkan bakat kepemimpinannya dalam tingkat tertentu.
Kepemimpinan adalah kekuasaan untuk mempengaruhi seseorang, baik dalam mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu, bawahan dipimpin dari bukan dengan jalan menyuruh atau mondorong dari belakang. Masalah yang selalu terdapat dalam membahas fungsi kepemimpinan adalah hubungan yang melembaga  antara pemimpin dengan yang dipimpin menurut rules of the game yang telah disepakati bersama.
Seseorang pemimpin selalu melayani bawahannya lebih baik dari bawahannya tersebut melayani dia.Pemimpin memadukan kebutuhan dari bawahannya dengan kebutuhan organisasi dan kebutuhan masyarakat secara keseluruhannya.
Dari batasan kepemimpinan sebagaimana telah disebutkan di atas seorang dikatakan pemimpin apabila dia mernpunyai pengikut atau bawahan. Bawahan ini dapat disuruh untuk mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu dalam mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
Dalam organisasi pemimpin dibagi dalam tiga tingkatan yang tergabung dalam kelompok anggota-anggota manajemen (manajement members). Ketiga tingkatan tersebut adalah :
a. Manager puncak (Top Manager)
b. Manajer menengah (Middle manager)
c. Manajer bawahan (Lower managor/suvervisor)
Seorang pemimpin mempunyai baik ketrampilan manajemen (managerial skill) maupun keterampilan tekhnis (technical skill). Semakin rendah kedudukan seorang tekhnis pemimpin dalam organisasi maka keterampilan lebih menonjol dibandingkan dengan keterampilan manajemen. Hal ini disebabkan karena aktivitas yang bersifat operasional.
Bertambah tinggi kedudukan seorang pemimpin dalam organisasi maka semakin menonjol keterampilan manajemen dan aktivitas yang dijalankan adalah aktivitas bersifat konsepsional.
Dengan perkataan lain semakin tinggi kedudukan seorang pamimpin dalam organisasi maka semakin dituntut dari padanya kemampuan berfikir secara konsepsional strategis dan makro.
Di samping itu perlu dikemukakan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi maka ia semakin genoralist, sedang semakin rendah kedudukan seseorang dalam organisasi maka ia menjadi spesialist.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa lebih mudah mengukur produktivitas pemimpin yang lebih rendah.
B. Kepemimpinan Formal dan Kepemimpinan Informal
Dalam setiap organisasi selalu terdapat hubungan formal dan hubungan informal. Hubungan formal melahirkan organisasi formal dan hubungan informal melahirkan organisasi informal. Kepemimpinan formal adalah kepemimpinan yang resmi yang ada pada diangkat dalam jabatan kepemimpinan.
Polo kepemimpinan tersebut terlihat pada berbagai ketentuan yang mengatur hirarki dalam suatu organisasi. Kepemimpinan formal tidak secara otomatis merupakan jaminan akan diterima menjadi kepemimpinan yang "sebenarnya" oleh bawahan.
Penerimaan atas pimpinan formal masih harus diuji dalam praktek yang hasilnya akan terlihat dalam kehidupan organisasi apakah kepemimpinan formal tersebut sekaligus menjadi kepemimpinan nyata.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara 2
Kepemimpinan formal sering juga disebut dengan istilah headship. Kepemimpinan formal tidak didasarkan pada pengangkatan. Jenis kepemimpinan ini tidak terlihat pada struktur organisasi.
Efektivitas kepemimpinan informal terlihat pada pengakuan nyata dan penerimaan dalam praktek atas kepemimpinan seseorang. Biasanya kepemimpinan informal didasarkan pada beberapa kriteria diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Kemampuan "memikat" hati orang lain.
2. Kemampuan dalam membina hubungan yang serasi dengan orang lain.
3. Penguasaan atas makna tujuan organisasi yang hendak dicapai.
4. Penguasaan tentang implikasi-implikasi pencapaian dalam kegiatan-kegiatan operasional.
5. Pemilihan atas keahlian tertentu yang tidak dimili ki oleh orang lain.
Telah dikemukakan bahwa tidak ada pemimpin tanpa adanya pihak yang dipimpin. Pemimpin timbul sebagai hasil dari persetujuan anggota organisasi yang secara sukarela menjadi pengikut. Pemimpin sejati mencapai status mereka karena pengakuan sukarela dari pihak yang dipimpin.
Seorang pemimpin harus mencapai serta mampertahankan kepercayaan orang lain. Dengan sebuah surat keputusan, maka seseorang dapat diberikan kekuasaan besar tetapi hal tersebut tidak secara otomatis membuatnya menjadi seorang pemimpin dalam arti yang sebenarnya.
Di bawah ini akan dikemukakan perbedaan antara pemimpinan dengan non pemimpin.
Pemimpin:
1. Memberikan inspirasi kepada bawahan
2. Menyelesaikan pekerjaan dan mengembangkan bawahan
3. Memberikan contoh kepada bawahan bagaimana melakukan pekerjaan
4. Menerima kewajiban-kewajiban
5. Memperbaiki segala kesalahan atau kekeliruan.
Non Pemimpinan :
1. Memberikan dorongan kepada bawahan
2. Menyelesaikan pekerjaan dan mongorbankan bawahan
3. Menanamkan perasaan takut pada bawahan dan memberikan ancaman.
4. Melimpahkan kewajiban kepada orang lain.
5. Melimpahkan kesalahan kepada orang lain dengan apabila terdapat kekeliruan atau penyimpangan-penyimpangan.
C. Teori Kepemimpinan dan Tipe-tipe Kepemimpinan
Beberapa teori telah dikemukakan para ahli majemen mengenai timbulnya seorang pemimpin. Teori yang satu berbeda dengan teori yang lainnya.
Di antara berbagai teori mengenai lahirnya paling pemimpin ada tiga di antaranya yang paling menonjol yaitu sebagai berikut :
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara 3
1. Teori Genetie
Inti dari teori ini tersimpul dalam mengadakan "leaders are born and not made". bahwa penganut teori ini mengatakan bahwa seorang pemimpin akan karena ia telah dilahirkan dengan bakat pemimpin.Dalam keadaan bagaimana pun seorang ditempatkan pada suatu waktu ia akn menjadi pemimpin karena ia dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah menetapkan ia menjadi pemimpin.
2. Teori Sosial
Jika teori genetis mengatakan bahwa "leaders are born and not made", make penganut-penganut sosial mengatakan sebaliknya yaitu :
"Leaders are made and not born".
Penganut-penganut teori ini berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin apabila diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.
3. Teori Ekologis
Teori ini merupakan penyempurnaan dari kedua teori genetis dan teori sosial. Penganut-ponganut teori ini berpendapat bahwa seseorang hanya dapat menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat mana kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pangalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya itu.
Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari kedua teori genetis dan teori sosial dan dapat dikatakan teori yang paling baik dari teori-teori kepemimpinan.Namun demikian penyelidikan yang jauh yang lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa faktor-faktor yang menyebabkan seseorang timbul sebagai pemimpin yang baik.
Pada umumnya para pemimpin dalam setiap organisasi dapat diklasifikasikan menjadi lima type utama yaitu sebagai berikut :
1. Tipe pemimpin otokratis
2. Tipe pemimpin militoristis
3. Tipe pemimpin paternalistis
4. Tipe pemimpin karismatis
5. Tipe pomimpin demokratis
1. Tipe pemimpin demokratis
Tipe pemimpin ini menganggap bahwa pemimpin adalah merupakan suatu hak.
Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai berikut :
a. Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi
b. Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
c. Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata-mata
d. Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain karena dia menganggap dialah yang paling benar.
e. Selalu bergantung pada kekuasaan formal
f. Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan pendekatan (Approach) yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara 4
Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe mimpinan otokratis tersebut di atas dapat diketahui bahwa tipe ini tidak menghargai hak-hak dari manusia, karena tipe ini tidak dapat dipakai dalam organisasi modern.
2. Tipe kepemimpinan militeristis
Perlu diparhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dengan seorang pemimpin tipe militeristis tidak sama dengan pemimpin-pemimpin dalam organisasi militer. Artinya tidak semua pemimpin dalam militer adalah bertipe militeristis.
Seorang pemimpin yang bertipe militeristis mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a. Dalam menggerakkan bawahan untuk yang telah ditetapkan, perintah mencapai tujuan digunakan sebagai alat utama.
b. Dalam menggerakkan bawahan sangat suka menggunakan pangkat dan jabatannya.
c. Sonang kepada formalitas yang berlebihan
d. Menuntut disiplin yang tinggi dan kepatuhan mutlak dari bawahan
e. Tidak mau menerima kritik dari bawahan
f. Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
Dari sifat-sifat yang dimiliki oleh tipe pemimpin militeristis jelaslah bahwa ripe pemimpin seperti ini bukan merupakan pemimpin yang ideal.
3. Tipe pemimpin fathernalistis
Tipe kepemimpinan fathornalistis, mempunyai ciri tertentu yaitu bersifat fathernal atau kepakan.ke Pemimpin seperti ini menggunakan pengaruh yang sifat kebapaan dalam menggerakkan bawahan mencapai tujuan. Kadang-kadang pendekatan yang dilakukan sifat terlalu sentimentil.
Sifat-sifat umum dari tipe pemimpin paternalistis dapat dikemukakan sebagai berikut:
a) Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.
b) Bersikap terlalu melindungi bawahan
c) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan. Karena itu jarang dan pelimpahan wewenang.
d) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya tuk mengembangkan inisyatif daya kreasi.
e) Sering menganggap dirinya maha tau.
Harus diakui bahwa dalam keadaan tertentu pemimpin seperti ini sangat diporlukan. Akan tetapi ditinjau dari segi sifar-sifar negatifnya pemimpin faternalistis kurang menunjukkan elemen kontinuitas terhadap organisasi yang dipimpinnya.
4. Tipe kepemimpinan karismatis
Sampai saat ini para ahli manajemen belum berhasil menamukan sebab-sebab mengapa seorang pemimin memiliki karisma. Yang diketahui ialah tipe pemimpin seperti ini mampunyai daya tarik yang amat besar, dan karenanya mempunyai pengikut yang sangat besar. Kebanyakan para pengikut menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin seperti ini, pengetahuan tentang faktor penyebab Karena kurangnya seorang pemimpin yang karismatis, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers), perlu dikemukakan bahwa kekayaan, umur, kesehatan profil pendidikan dan sebagainya. Tidak dapat digunakan sebagai kriteria tipe pemimpin karismatis.
5. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Dari semua tipe kepemimpinan yang ada, tipe kepemimpinan demokratis dianggap adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.
Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut:
1. Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
2. Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.
3. Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
4. Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
5. Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
6. Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
7. Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
8. Dan sebagainya.
Dari sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tipe demokratis, jelaslah bahwa tidak mudah untuk menjadi pemimpin demokratis.
􀂙 Syarat-syarat pemimpin yang baik
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa seorang yang tergolong sebagai pemirnpin adalah seorang yang pada waktu lahirnya yang berhasil memang telah diberkahi dengan bakat-bakat kepemimpinan dan karirnya mengembangkan bakat genetisnya melalui pendidikan pengalaman kerja.
Pengambangan kemampuan itu adalah suatu proses yang berlangsung terus menerus dengan maksud agar yang bersangkutan semakin memiliki lebih banyak ciri-ciri kepemimpinan.
Walaupun belum ada kesatuan pendapat antara para ahli mengenai syarat-syarat ideal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, akan tetapi beberapa di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut :
a) Pendidikan umum yang luas.
b) Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang genoralist yang baik juga.
c) Kemampuan berkembang secara mental
d) Ingin tahu
e) Kemampuan analistis
f) Memiliki daya ingat yang kuat
g) Mempunyai kapasitas integratif
h) Keterampilan berkomunikasi
i) Keterampilan mendidik
j) Personalitas dan objektivitas
k) Pragmatismo
l) Mempunyai naluri untuk prioritas
m) Sederhana
n) Berani
o) Tegas dan sebagainya.
D. Peranan Staf Dalam Proses Manajemen
Telah dikemukakan bahwa dalam organisasi bentuk lini dan staf ada dua kelompok tenaga kerja. Kelompok pertama adalah mereka yang tugas utamanya bersifat menterjemahkan tugas pokok menjadi aktivitas, sedang di pihak lain terdapat mereka yang tugasnya melakukan kegiatan-kegiatan penunjang demi lancarnya roda organisasi dan mekanisme kerjasama yang harmonise baik secara kwantitatif maupun kualitatif kedua kelompok ini mempunyai peranan penting dalam merealisasi tujuan organisasi.Secara efektif dan efisien. Sepintas lalu kelihatan seolah-olah karyawan lini lebih penting karena tugas meraka yang utama melaksanakan aktivitas penting untuk moraalisasi tujuan. Malah dianggap kadang-kadang bahwa tanpa karyawan. Staf tujuan dapat juga direalisasi, pandangan ini terutama dalam organisasi modern kurang tepat, walaupun sifat aktivitas karyawan staf nya penunjang kegiatan yang dilakukan olah karyawan lini akan tetapi peranan mereka dalam menciptakan efektivitas dan efisiensi sangat penting. Dengan bantuan karyawan staf organisasi dapat mendayagunakan resources yang dimiliki perusahaan secara optimum karena mereka dapat melihat berbagai kemungkinan, pendidikan dan pengalaman mereka memungkinkan memilih kesempatan yang terbaik.
Pembahasan tentang pentingnya peranan staf dalam proses manajemen berarti tidak saja menbahas pentingnya kegiatan-kegiatan penunjang terlaksana dengan efisien dan ekonomis, akan tetapi juga membahas pentingnya paranan karyawan staf dalam membantu manajemen members dalam mengambil keputusan.
Sering kurang disadari bahwa tugas utama dari seorang pemimpin adalah mengambil keputusan. Segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi sebaiknya adalah karena diputuskan demikian bukan karena secara kebetulan terjadi. Dengan pengambilan keputusan yang tepat maka segala pendadakan-pendadakan dapat dihindarkan atau dikurangi.
Keputusan-koputusan yang diambil oleh berbagai eselon pemimpin dalam organisasi tentu mempunyai bobot yang berbeda-beda pule. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi maka semakin besar keputusan yang diambilnya meskipun sering bobot dari keputusan tersebut bersifat umum dan kwalitatif. Top manajemen dalam organisasi mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan yang bersifat menyeluruh dalam arti bahwa keputusannya akan mempunyai implikasi yang luas terhadap seluruh organisasi. Lower manajemen biasanya membuat keputusan-keputusan yang terbatas kepada unit organisasi yang dipimpinnya. Dan sifat keputusannya lebih mudah diterjemahkan kepada bentuk yang bersifat kuantitatif.
Setiap keputusan yang diambil baik di tingkat top middle maupun lower manager seperti supervisor ada beberapa syarat yaitu sebagai berikut :
a) Keputusan yang diambil harus mempermudah dan mempercepat pencapaian tujuan.
b) Keputusan harus tepat dalam arti mampu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh organisasi.
c) Keputusan harus carat karena keputusan yang dapat mengakibatkan tidak dimanfaatkannya lambat kesempatan-kesempatan yang terbaik, yang terbuka untuk organisasi.
d) Keputusan harus praktis, dalam arti dapat dilakukan sesuai dangan kekuatan-kekuatan yang dimiliki organisasi.
e) Keputusan yang diambil harus regional dalam pengertian dapat diterima oleh akal sehat dari para pelaksana.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa keputusan yang diambil belum tentu menyenangkan semua orang yang ikut serta dalam organisasi. Dapat dikatakan bahwa keputusan yang menyenangkan samua pihak tentu mempercepat proses pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Dapat dikatakan bahwa keputusan yang menyenangkan samua pihak belum tentu mempercepat proses pencapaian tujuan yang telah ditatapkan.
Tugas-tugas yang dapat diberikan kapada karyawan staf antara lain adalah sebagai berikut :
a) Mengumpulkan data (fakta)
b) Mengintorarasikan data (fakta)
c) Mengusulkan alternatif tindakan
d) Mendiskusikan rencana-rencana yang sedang dipikirkan dengan berbagai hak dan memperoleh kesepakatan mereka atau memperoleh alasan mengapa rencana tersebut ditolak.
e) Mempersiapkan instruksi-instruksi tertulis dan dokumon-dokumen lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang merupakan realisasi daripada rencana yang telah ditetapkan.
f) Mengamati kegiatan-kegiatan oporasional dan kondisi kondisi yang dihadapi untuk rnengadakan apakah struksi-instruksi telah dijalankan dengan baik dan apakah instruksi tersebut menghambat atau mempelancar proses pencapaian tujuan.
g) Mengusahakan pertukaran informasi antara para petugas-petugas oporasional mongenai pelaksanaan untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan koordinasi.
h) Meberikan infrmasi da nasehat kepada petugas-petugas oporasional mengenai pelaksanaan tugas–tugas yang telah didelegasikan kepada mereka.
Dari peranan staf sebagaimana telah dikemukakan dapat diketahui bahwa staf adalah hal yang diinginkan apabila :
a) Keterbatasan kemampuan pimpinan untuk melaksanakan tugas-tugas secara baik. Keterbatasan ini melingkupi ketarbatasan waktu, energi, pengetahuan, perhatian, pandangan dan sebagainya.
b) Tugas-tugas yang harus dijalankan belum dapat didelagasikan kepada bawahan karena :
  •  bawahan belum mempunyai kemampuan
  •  secara efektif dan efisien lebih tepat wewenang tersebut diberikan kepada spesialist.
  • dan sebagainya.
Walaupun penggunaan staf dapat membantu terlaksananya pencapaian tujuan secara efektif dan akan tetapi parlu diingat bahwa pemakaian efisien,tenaga staf mempunyai beberapa kelemahan diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Menambah biaya adrninistrasi
2) Dapat menimbulkan kebingungan bahagian operasional karena sering mereka menerima instruksi dua atasan yaitu lini dan atasan fungsionil.
c) Menambah kompleks hubungan kerja dalam organisasi.
d) Staf biasanya terdiri dari tenaga spesialist.Karena itu pertimbangan dan nasehat-nasehat mereka dipandang dari pencapaian tujuan organisasi kurang terpadu.
e) Keputusan yang harus diambil biasanya menjadi lambat.
f) Dan sebagainya.
E. Pelimpahan Wewenang (Delegation of Authority)
Wewenang (authority) merupakan kunci daripada pekerjaan seorang manajer. Arti sebenarnya dari seorang manajer dalam sebuah organisasi dan hubungannya dengan orang lain pada organisasi tersebut terlihat pada wewenang yang dimilikinya.
Yang mengikat bahagian-bahagian daripada suatu struktur organisasi adalah hubungan wewenang.
Wewenang adalah : Kekuasaan menggunakan sumbardaya untuk mencapai tujuan organisasi.
Wewenang bersumber pada dua pendapat (approach) yaitu sebagai berikut :
a. Institutional approach
Di sini status daripada yang melaksanakan aktivitas manajemen didasarkan atas kekuasan yang berkaitan dengan hak milik. Kekuasaan tersebut kemudian didelegasikan/dilimpahkan kapada si manajer. Jadi wewenang dari si manajer berasal dari hak untuk menggunakan harta si pemilik kearah yang telah ditetapkan oleh si pemilik.
b. Subordinate acceptance approach
Seorang manajer tidak mempunyai wewenang sebelum wewenang tersebut diberikan olah bawahan kepadanya. Pendekatan ini merupakan bagian daripada apa yang dalam manajemen dikatakan bottom up management. Bawahan memberikan wewenang kepada si manajer mempunyai kelebihan daripada bawahan umpamanya keahlian tehnik, human relation dan sebagainya.
Jangan dilupakan bahwa aktivitas tidak dapat di paksakan kepada bawahan dengan mengabaikan kapasitas mental dan phisik dari bawahan. Disamping itu juga wewenang harus disesuaikan dengan rencana-rencana organisasi dan paham sosial yang berlaku seperti kebiasaan, keyakinan dan sebagainya.
Pelimpahan wewenang mempunyai tiga unsur,yaitu:
a. Wewenang (authority)
b. Tanggung jawab (responsibility)
c. Pertanggung jawaban (accountability)
Wewenang yang telah didelegasikan/dilimpahkan kepada bawahan berarti si bawahan telah mempunyai wewenang dan sekaligus tanggung jawab dan pertanggung jawaban terhadap hasil dari pendelegasian/pelimpahan daripada wewenang tersebut.
Perlu diingat bahwa walaupun si manajer telah melimpahkan wewenang akan tetapi wewenang tersebut tepat berada pada si manajer karena pertanggung ada pada simanajer. Bertambah ke bawah dari jawaban piramida organisasi maka wewenang bertambah kecil, dan sebaliknya bertambah ke atas dari dasar piramida organisasi pertanggung jawaban bertambah besar. Yang dapat didelegasikan/dilimpahkan adalah wewenang bukan tanggung jawab.
Jelaslah bahwa dalam sebuah organisasi selalu harus terdapat pendelegasian wewenang. Hal ini terutama disebabkan karena beberapa pembatasan dari si manajer sendiri dalam melaksanakan aktivitas.
Pembatasan tersebut melingkupi :
a) Span of time. Terbatasnya waktu seseorang manajer untuk mengerjakan dan mengawasi sebuah aktivitas.
b) Span of atention. Terbatasnya perhatian seorang manajer terhadap sebuah aktivitas.Otak seorang manajer tidak akan tetap kapasitasnya dalam memikirkan beberapa aktivitas dalam waktu tertentu.
c) Span of personality and energy.Terbatasnya kepribadian dan tenaga seorang manajer untuk memimpin sejumlah bawahan dengan ofektif dan juga untuk mempengaruhi bawahan secara pribadi maupun kolektif.
d) Span of knowledge. Terbatasnya seorang manajer untuk memimpin pengetahuan bawahannya maupun pengetahuannya tentang sebuah aktivitas.
e) Span of management. Terbasnya kemampuan seseorang untuk memimpin sejumlah bawahan. Beberapa penulis mengemukakan sebenarnya jumlah bawahan yang dapat dipimpin aleh seorang manajer.
Agar pendelegasian wewenang dapat berjalan dengan lancar maka seorang manajer harus mempunyai sikap sebagai berikut :
a) Personal receiptiveness. Simanajer harus bersedia memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengemukakan gagasan dan pendapat-pendapatnya.
b) Willingbess to let go. Manajer harus bersedia dan sepenuh hati melepaskan ewenang kepada bawahannya.
c) Wilingness to let other make mistake. Adalah kurang bijaksana apabila seorang rnanajer yang telah mendelegasikan wewenangnya terus menerus mengawasi bawahan yang telah menerima wewenang karena khawatir si bawahan membuat kesalahan. Jika hal tersebut dilakukan oleh si manajer maka pendelegasian wewenang tidak murni lagi.
d) Wilingness to trust subordinate. Delegasi yang efektif cenderung bahwa si manajer telah mempercayai bawahannya dan menganggap bawahannya telah matang dan mampu melaksanakan aktivitas yang dipercayakan kepadanya.
e) Wilingness to establish and exercise broad control. Manajer harus bersedia melatih dan mengawasi bawahannya secara luas. Dengan demikian pemberian pendidikan dalam bentuk latihan dan sistem pengawasan dapat dipergunakan sebagai alat untuk melaksanakan pendelegasian wewenang yang efektif.
Walaupun pendelegasian wewenang merupakan hal yang amat perlu pada sebuah organisasi akan tetapi sering terjadi bawah seorang manajer tidak bersedia melaksanakannya. Hal ini disebabkan karena :
a. Rintangan psychologis :
a1. Sering si manajer menganggap bahwa ia adalah manusia super yang tidak dapat diganti .Tanpa dia organisasi akan macet.
a2. Kadang-kadang manajer berhasrat mendominasi segala aktivitas perusahaan. Jadi si manajer ingin berkuasa.
a3. Si manajer tidak bersedia menanggung resiko si bawahan menbuat kesalahan.
a4. Perasaan takut si manajer bahwa dengan mendelegasikan wewenang, akan ternyata bahwa bawahan lebih mampu dari dia.
b. Rintangan organisatoris :
b1. Sulit membuat batas tentang tanggung jawab.
b2. Si manajer kadang-kadang kurang mengetahui sampai dimana perlu delegasi wewenang dilaksanakan.
K E S I M P U L A N
Kepemimpinan adalah kekuasaan untuk mempengaruhi seseorang, baik dalam mengerjakan sesuatu atau tidak mangerjakan sesuatu. Seseorang dikatakan apabila dia mempunyai pengikut atau bawahan.Bawahan pemimpin ini dapat disuruh untuk mengerjakan sesuatu atau tidak mengerjakan sesuatu dalam mencapai tujuan bersama yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
Semakin tinggi kedudukan seorang pemimpin dalam organisasi maka semakin dituntut daripadanya kemampuan berfikir secara konsopsional strategis dan makro. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi maka ia akan semakin generalist, sedang semakin rendah kedudukan seseorang dalam organisasi maka ia menjadi spesialist.
Teori generis, teori sosial dan teori okologis adalah teori yang mengemukakan lahirnya/timbulnya seorang pemimpin, sedangkan tipe-tipe kepemimpinan dapat diklasifikasikan menjadi lima tipe utama yaitu tipe otokratis, militeristis, paternalistis, karismatis dan tipe demokratis.
Tugas utama dari seorang pemimpin adalah mengambil keputusan. Segala sesuatu yang terjadi dalam organisasi sebaiknya adalah karena diputuskan demikian, bukan karena secara kebetulan terjadi. Semakin tinggi kedudukan seseorang dalam organisasi maka semakin besar bobot dari keputusan yang diambilnya meskipun sering ke putusan tersebut bersifat umum dan kwalitatif.
Dalam sebuah organisasi harus selalu terdapat pendelegasian wewenang. Hal ini disebabkan karena keterbatasan-keterbatasan dari manajer dalam melaksanakan tugasnya.

PENTINGNYA SEBUAH ORGANISASI

PENTINGYA SEBUAH ORGANISASI

By.IHSAN

Pernah berpikir untuk hanya belajar, belajar, dan belajar saja di sekolah?
Pastinya banyak sekali orang yang berpikir bahwa sukses hanya bisa diraih dengan belajar. Tapi konteks belajar yang dimaksudkan adalah kegiatan dimana kita hanya berkutat dengan buku-buku pelajaran ataupun pengetahuan lainnya dengan suntuknya tanpa ada praktek nyata.
Sebenarnya belajar hanya pelajaran eksakta ataupun non-eksakta saja tidak cukup. Atau hanya membaca berbagai buku motivasi ataupun buku-buku kiat sukses mencapai sesuatu. Semua itu tersimpan di dalam otak dan bila dipraktekkan pun mungkin kesuksesannya tidak seberapa.
Rasanya cara untuk mencapai kesuksesan secara penuh adalah dengan ikut berorganisasi. Sejak dini kita sudah harus mulai berorganisasi. Bersosialisasi dengan orang lain melalui organisasi dan mengetahui kerasnya cara berpikir orang lain dengan kondisi dimana kita tidak bisa memaksakan kehendak adalah sebuah pelajaran sekaligus pengalaman hidup yang tidak bisa didapatkan di buku manapun juga.

Jika ada pandangan bahwa orang sukses adalah orang yang hanya menghabiskan waktunya dengan berbagai buku pelajaran, itu semua salah. Pastinya dibalik kesuksesan itu ada sebuah pengalaman. Pengalaman tentang kehidupan yang kebanyakan bisa didapatkan di organisasi.
Saya membuat sebuah pandangan hidup seperti ini,
Orang sukses bukan hanya belajar, belajar, dan belajar saja. Tapi orang sukses juga harus berorganisasi!
Untuk saya, organisasi adalah hal penting. Maka dari itu saya memulai berorganisasi sejak duduk di bangku tsanawiyyah(setingkat SMP). Menjadi ketua RG Tsanawiyyah(OSIS).Dan sekarang ini, Alhamdulillah, mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai sekretaris RG masa jihad 2009-2010 M  di PPI 96 LEMPONG banyuresmi-garut.

Rabu, 14 April 2010

NEW BOOK REALIZE_1...


Arba’in for Children

Aku hafal 40 hadits

Hal yang sangat dibanggakan orang tua dari anaknya bukanlah karena mereka memberikan emas permata, uang, kendaraan dan kemewahan, melainkan karena mereka mempersembahkan keshalihan.
Keshalihan anak kita-lah yang akan menyelamatkan sekaligus mengantarkan orang tuanya ke gerbang pintu kebahagiaan dunia dan akhirat. Anak yang shalih yang sesungguhnya-lah menjadi permata hati (qurrata a’yun) sebenarnya kebanggaan dan dambaan orangtua.
Karena inilah perlunya mendidik anak agar mereka menjadi waladin shalihin yad’u lahu, anak yang shalih yang senantiasa memohonkan yang terbaik bagi orang tuanya.
Buku sederhana ini, insya Allah akan bermanfaat bagi para orang tua dan para pendidik dalam rangka mendidik putra-putrinya agar benar-benar terarah dalam upaya menshalihkan putra-putri kesayangannya.
Buku ini berisi kumpulan empat puluh lima hadits Baginda Nabi populer yang sengaja disusun dengan muatan tarbiyatul aulad atau mendidik anak agar mereka menjadi anak yang shalih.
Ajarilah anak kita dengan hadist Nabi agar mereka lebih tahu ajaran Nabi, lebih mengerti akhlak Nabi, dapat meneladani akhlak Nabi, mengidolakan pribadi Nabi dan lebih mencintai Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

By, Created. Abdurohim, M.Ag. Ikhwan Publishing

NEW BOOK REALIZE_2...


Fortunately our life is a full day dzikir
Dzikir dan berdoa tidak bisa lepas dari kesharian seorang muslim. Dzikir ddan do’a adalah pengiring setiap aktivitas yang kita lakukan sepangjang waktu (full time) dan sepanjang hari (full day) agar apapun yang kita lakukakn berbuah berkah dan keberuntungan.
Bagi seorang muslim dzikir dan do’a adalah pengikat hubungan antara dirinya dengan Allah yang menciptakannya.
Semakin kuat aktifitas dzikir dan do’a seorang muslim yang dipanjatkan sepanjang hari dan sepanjang waktu, maka semakin erat hubungan antara dirinya dengan Tuhannya, artinya jiwanya akan tenang, semua aktifitas yang dilakukan akan terkendali dalam jalur keberuntungan hidup, karena ia terus dekat dengan Allah yang menjaga dan menolongnya. Allah berfirman:
“Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 10)
Dengan demikian, jika kita selalu berdzikir kepada Allah sepanjang hari, maka hari-hari kita adalah hari keberuntungan.
Fortunaltely, our life is a full day dzikir!

By, Created. Abdurohim, M.Ag. Ikhwan Publishing

Robohnya Dakwah di Tangan Para Da’i

Robohnya Dakwah di Tangan Para Da’i

Untuk sebuah perjuangan, dakwah ataupun jihad, kaderisasi dan semangat yang kurang adalah sebuah hambatan utama.
Kader-kader yang tidak kompeten, kurang gesit dsb, menyebabkan kurang kuatnya bangnann dakwah.
Taat bin Malik adalah seorang pejuang yang tangguh dan penuh semangat. Tapi, kadang hasutan yang membuat seseorang tak sadar dirinya berada pada genggaman setan. Akhirnya beliau banyak sekali alasan untuk tidak ikut barisna pertama. Karena beliau mengira dan berpikir bisa mengejar padahal akhirnya malah tertinggal. Selain itu bisikan dari setan untuk tinggal bersama 2 istrinya yang cantik. Kalau dipikir hubungan suami istri sudah pasti disebut ibadah. Terus kalo meninggalkan dakwah apakah benar??? Mungkin memang itu adalah salah satu penyebab robohnya bangunan dakwah. Terus bagaimanakah kita?
Kita belum menikah, kita beda dengan Taat bin Malik. Kita tidak bisa hanya dengan alasan sepele langsung meninggalkan dakwah, sedangkan beliau saja yang sudah tentu karena istrinya karena hubungan yang halal penyebab robohnya bangunan dakwah. Apakah kita benar melontarkan alasan2 yang kurang benar.
Kita wajib berdakwah, di kampus, di rumah, di kos, dan pastinya di lingkungan yang sekarang kita tempati.
Apakah hanya karena masalah kecil males untuk bergerak. Apakah kita yang akan merobohkan bangunan dakwah itu sendiri?
“Asslm. Ukhti. Nanti sore ba’da ashar syuro di selasar MMU. Wajib dateng!!!”
“wa’alaikumussalam, pak. Afwan. Saya tidak bisa dating syuro. Sudah ada rencana mudik nanti sore”
Tidak pantaskah jika aku bela temen. Apakah kita mesti terlalu idealisme? Bukankah dakwah pertama diterapkan pada diri sendiri dan keluarga? Tidak syar’ikah alasan untuk mudik? Loh, apalagi kok mengira cumin kangen-kangenan doing.
Mungkin saya ga mudik seperti halnya temen saya, saya merasakan ebtapa rindunya, betapa pengen ketemu dengan orang tua, Rhidho orang tua, rhidho Allah juga kan? Saya memang jarang sekali mudik. Mungkin sekali dua kali kalau lagi Ramadhan ato liburan semester. Komunikasi saya dnegan orang tua sekarang ini adalah melalui telp. Itupun sangat jarang banget. Mungkin cuman sebulan seklai. Itupun juga rata-rata ngomong cuman 2 menitan. Paling-paling cuman Tanya gimana kabar? Duitnya masih blom? Kapan dikirim? Kabar rumah baik2 saja. Sampai-sampai hafal yang mau diomongin ibu ketika telp. Mesti itu-itu mulu. Ga bisa aku ngomong banyak-banyak. Sebenernya saya pengen sekali cerita kepada beliau, cerita tentang aktivitas di kampus, cerita di kos dan cerita semuanya. Aku pengen membagi senang dan sedih. Pengeeen sekali…
Menurut saya kurang tepat kalau pak bilang cuman kangen-kangen doing. Enggak!!! Bukankah dakwah tidak hanya di kampus? Apakah ga aneh ketika di kampus baik2 aja sedang kos berantakan seperti yang sekarang mungkin aku alami. Astaghfirullah!!!
Di kampus kita dengan semangatnya bilang: jihad!!! Jihad!!! Jihad!!! Palestina gini!! Palestina gitu!!! Tapi, kampus berantakan!! Kos ambrul adul !!! aduh!!! Tidaaakkkkk!!!!
Well, mungkin aku aja yang terlalu ngeyel. Dakwah adalah emngajak ke kebaikan dan mencegah ke kemungkaran. So, pasti ga hanya mengajak ke kebaikan saja kan. Mencegah kemungkaran juga dapat dikatakan dakwah kan??? Kadang memang berpikir. Ruh jihadku kelontongan, ruh jihadku kosong, ruh jihadku kering. Karena aku sendiri sebenarnya belum paham yang namanya jihad yang benar seperti apa. Setauku, dengan ilmu yang kita punya dengan apapaun yang kita punya kita wajib jihad. So, diharapkan kita kompeten pada ilmu kita yang sangat dibutuhkan untuk berjihad. Jihad enggak mesti iktu perang kan? Diri ini blom terlatih untuk berjihad. Karena selama ini memang tugas utamaku adalah belajar dan belajar. Itulah yang telah dimanahkan kepadaku. Dan sedih sekali ketika aku merasa mengeewakan orang tua, mengecewakan keluargaku.
Apakah mungkin aku terlalu meremehkan sesuatu? Enggak!! Sebenernya aku sadar, jalan ini sungguh sanagt sulit!!!
Astaghfirullah… afwan kalau saya penyebab pertengakaran itu, penyebab perdebatan itu. Kita mungkin memang punya cara pandang yang berbeda. So, mungkin dengan perdebatan itu saya bisa meluruskan niat dan paham benar tentang jihad itu sendiri. Kenapa setiap akali ketemu kok marah-marah, berantem ?? benar2 aku blom paham dansemoga cepat paham. Amiiin.
Kenapa tho?? Kok idealisme banget? OK!!! Sekarang yang penting kita lebih bersemangat lagi untuk bergerak!! Masih banyak hal yang belum kita dapatkan !!! saya sangat mengharapkan masukan dari temen-temen semua. Biar aku ga lengah serangan musuh!!! Semangat!!!

JAGALAH PANDANGAN


JAGALAH PANDANGAN

Kita ingin memiliki hati yang bersih
Kitapun harus tau jalan2 yang membuat hati kotor
dari mata turun ke hati
Artinya mata yang tidak terjaga
Bisa mengakibatkan hati menjadi kotor dan membuta

Ketrampilan menahan apa-apa yang diharamkan Allah
InsyaAllah membuat hati kita bercahaya
Oleh karena itu, menundukkan pandangan adalah amalan yang utama
Marilah kita palingkan pandangan kita
dari lawan jenis yang tidak halal untuk dilihta
jauhkan pandangan kita dari kilauan dunia
Yang membuat hati kita diperbudak oleh keinginan semata
tahan dari merendahkan meremehkan siapapun jua

Mata mengantarkan kepada keinginan
Seandainya keinginan itu yang diridlai Allah
maka mata kita akan menjadi penuntun amalan sholeh kita
Jika keinginan itu mengantarkan kemaksiatan
Maka KUNCInya adalah .....
JAGALAH PANDANGAN !!!!......
(tausiyah dari KH. Abdullah Gimnastiyar)

SAMBUTLAH HARI-HARI MU


Hari-harimu engkau lewati begitu saja, sesaat demi sesaat. Semua berlalu begitu cepatnya. Begitulah. Dirimu berpindah dari pagi ke petang, dan dari petang hingga pagi kembali. Apakah engkau pernah bermuhasabah (introspeksi) terhadap dirimu sendiri pada suatu hari? Sehingga engkau bisa melihat lembaran-lembaran harimu, dengan amal apa engkau membukanya dan dengan amal apa pula engkau menutupnya? Bakr Al Muzni berkata, “Tidak ada satu haripun yang dikeluarkan oleh Allah ke dunia, kecuali berkata, `Wahai anak Adam, manfaatkanlah aku. Karena mungkin saja tidak ada hari lagi buatmu setelahku`. Dan tidaklah ada malam, kecuai berseru,`Wahai anak Adam, manfaatkanlah aku. Karena mungkin saja tidak ada malam lagi bagimu setelah aku`.” Maka telah berapa banyak hari yang engkau lewati. Berapa banyak umur telah engkau lalui. Namun, teramat sedikit orang yang mau bermuhasabah terhadap dirinya. Dan sedikit sekali orang yang mau mengetuk jiwanya dengan cemeti muhasabah. Mereka menjalani hari-harinya dalam kelalaian dan panjang angan-angan yang tak ada faidahnya. Ketika fajar menampakkan benang-benang cahayanya, engkau saksikan, kebanyakan manusia menyambut hari-harinya dengan niat yang tidak benar. Setelah berlalunya siang dan berganti malam, engkau bisa saksikan, mereka kembali ke peraduan mereka dengan niat seperti itu pula. Saudaraku … muslim, Matahari senantiasa terbit dan tenggelam. Tetapi apakah engkau telah menghisab dirimu sendiri pada suatu hari? “Amal shalih apakah yang hendak kuperbuat ? Amal apakah yang akan aku hadirkan untuk hari ini? Memang benar, umumnya manusia tidak pandai dalam mengatur hari-hari mereka. Padahal … dirimu wahai anak Adam, akan senantiasa dihitung dan ditulis pada hari-hari itu. “Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata,”Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS Al Kahfi : 49). Dan berfirman Allah Ta’ala, yang artinya: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS Al Infithar : 10-12). Maka jiwa-jiwa akan dihisab, amal-amal akan ditulis. Dan seandainya orang yang lalai itu sadar, sungguh mereka akan memelihara diri dan menjaganya dari jalan kebinasaan. Namun sedikit sekali orang yang sadar, sedikit sekali orang yang memperhatikan jalan itu. Sebagian orang yang bijak berkata, “Jika seseorang memasuki waktu pagi, hendaklah ia berniat dengan empat perkara. Pertama, melaksanakan yang diperintahkan Allah. Kedua, menjauhi laranganNya. Ketiga, inshaf (berbuat adil) terhadap orang yang ada diantara mereka, dan dalam bermu`alamahnya. Keempat, ishlah (memperbaiki hubungan) antara ia dengan musuh-musuhnya. Apabila ia berada di atas niat ini, maka aku berharap ia termasuk orang yang shalih dan beruntung.” Maka perhatikanlah wahai orang-orang yang berakal, hisablah dirimu ! Apakah engkau termasuk jenis ini? Jika ya, perbanyaklah pujian kepada Allah dan mohonlah tambahan fadhilah serta istiqamah di atas petunjukNya. Tetapi, jika engkau tidak termasuk jenis ini, kembalilah ke jalan itu sebelum waktunya lewat. Berlapanglah untuk memperbaiki dirimu, dan mintalah taufiq kepadaNya menuju jalan kebahagiaan. Sesungguhnya orang-orang yang berakal akan menjadikan hari-harinya ladang untuk akhirat. Dia akan menanam, mengairi dan mengolahnya dengan amal-amal shalih, sehingga bisa memetik hasilnya di kemudian hari, yaitu pada saat manusia hanya mendapatkan kebaikan atau keburukan yang pernah ia kerjakan. Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara. Masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, kayamu sebelum tiba masa fakirmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan hidupmu sebelum masa matimu” (Riwayat Al Hakim, Shahih Thargib Al Albani, 3355). Saudaraku muslim … Apa yang telah engkau persiapkan untuk suatu hari; yang engkau akan disendirikan di dalam kuburmu? Apakah dirimu termasuk orang-orang yang terlalaikan oleh angan-angan kosong, ataukah termasuk orang yang memperhatikan hari esok? Ketahuilah ! Bahwa dalam hari-harimu ada kesempatan. Maka, manfaatkanlah dan jangan engkau menunda-nunda kebaikan hingga hari esok. Jika kemarin engkau berbuat dosa, maka, lipatgandakanlah kebaikan, niscaya engkau akan terpuji. Jika engkau manfaatkan hari-harimu, maka faidahnya akan kembali kepadamu. Hari kemarin telah berlalu, tak mungkin akan kembali. Janganlah engkau menunda-nunda kebaikan hingga esok. Mungkin hari esok akan hadir, namun engkau telah tiada Songsonglah hari-harimu dengan niat yang benar, berazam (bertekad) berbuat taat, menjauhi maksiat dan tidak lupa meminta kepada Allah taufikNya menuju keridlaanNya. Janganlah dirimu melupakan dzikir kepada Allah, dan janganlah ada hari yang berlalu tanpa dzikrullah. Laksanakanlah perintah-perintah Allah yang telah diwajibkan kepadamu, terutama shalat lima waktu ketika muadzin memanggilmu. Tahanlah sifat yang merugikan kaum muslimin. Berikanlah kasih-sayang kepada orang-orang lemah dan ajarilah orang yang tidak mengetahui. Tersenyumlah di hadapan kaum muslimin. Karena itu merupakan shadaqah. Jadikanlah dirimu sebagi orang yang suka memberi nasihat di hadapan muslimin, dan jangan melalaikan mereka. Cintailah kebaikan pada kaum muslimin, sebagaimana engkau mencintai kebaikan untuk dirimu sendiri. Janganlah meremehkan amal kebaikan, meskipun hal itu remeh menurutmu. Janganlah engkau membiarkan berlalu satu kesempatan pun untuk bertaqarrub kepada Allah, kecuali engkau memanfaatkannya. Bersemangatlah memperbanyak mengintai kebaikan, sebagaimana engkau bersemangat mengintai harta dunia. Jauhilah tempat-tempat syubhat (merugikan), dan menjauhlah dengan membawa agamamu, sehingga engkau tidak akan terkoyak dengan syubhat itu. Jauhkanlah dirimu dari segala sesuatu yang bisa menyeretmu ke dalam kemaksiatan kepada Allah, atau yang dapat mendekatkan dirimu ke dalam maksiat. Berniatlah selalu untuk berbuat kebaikan dan menjauhi yang haram. Ketahuilah, bahwa di dalam niat berbuat baik terdapat balasan dan pahala. Saudaraku… … muslim, Sesungguhya pintu-pintu kebaikan teramat banyak, tak terhitung. Dan orang yang mendapat taufik ialah yang menjadikan hari-harinya sebagai hari-hari penuh kebahagiaan, berusaha dengan keras berbuat ketaatan dan kebaikan. Berbekallah wahai saudaraku, untuk hari akhiratmu! Janganlah masuk dalam lembaranmu, kecuali yang bisa membahagiakanmu kelak ketika engkau saksikan. Mulailah hari-harimu dengan kebaikan dan tutuplah dengan kebaikan juga. Semoga yang sedikit ini bermanfaat untuk para pembaca yang budiman. Dan semoga kita selalu mendapatkan taufik dan hidayah Allah . Amin. (Dinukil dari: kitab Kaifa Tastaqbilu Yaumaka, Karya Syaikh Azhari Ahmad Mahmud)

Memahami Watak Agama-Agama

Memahami Watak Agama-Agama

Kamis, 08 April 2010

INDAHNYA ISLAM


INDAHNYA ISLAM
Apakah Anda pernah merasakan dalam hidup ini betapa indahnya Islam? Jika belum, rasakan dulu betapa bahagianya seorang muslim hidup di bawah naungan agama terakhir. Seluruh panduan kehidupan tertuang dalam Al Quran. Inilah sumber kebahagiaan hakiki dari pencipta seluruh alam semesta dan isinya, termasuk manusia.

Sayangnya masih banyak orang menggali berbagai ilmu tidak bermanfaat dalam mencari kebahagiaan. Manusia mencari berlian di dalam bumi yang terang padahal berlian itu berada di dalam kamar. Manusia tidak mencari sumber kebahagiaan dari tempatnya.

Islam seperti artinya damai, maka kedamaian di hati akan dicapai dengan memeluk Islam sepenuh hati. Mereka yang tidak pernah merasakan nikmatnya dalam naungan Islam ini karena memandang Islam sebelah mata. Syumuliatul Islam tidak dirasakan dalam dirinya.

Keindahan Islam misalnya bisa dirasakan dalam peribadahan. Betapa indahnya harmoni alam dengan manusia dalam beribadah kepada-Nya. Matahari sudah berjuta tahun mengabdi kepada Maha Pencipta dengan terbit di timur dan tenggelam di Barat. Matahari masih menemani setiap mahluk setiap hari. Dia tidak pernah absen. Kesetiaan mahluk yang namanya matahari ini menimbulkan rasa syukur akan diri dalam merasakan nikmat beribadah kepada-Nya.

Saat sujud dalam shalat terasa sekali syahdunya dalam payung keindahan peribadahan Islam setiap hari. Namun tentu saja rasa bahagia ini dapat direngkuh bagi mereka yang percaya 100 persen akan isi dari panduan hidup Islam.

Bukankah Allah SWT sendiri sudah meridhai Dinul Islam sebagai sebuah panduan kita. Renungkanlah bahwa Dzat Yang Menciptakan kita semua sudah memberikan sebuah panduan yang sudah dianugrahkan dengan lengkap lalu mengapa kita masih kebingungan? Kita rasakan bagaimana Maha Rahman Allah dengan ayat berikut.

"Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." (Qs. Ali Imran [3]:19)

Jika keindahan Islam belum dirasakan dalam hati, maka perlu kita renungkan apakah hati ini sudah kering, apakah hati ini tak pernah dibasuh dengan ayat-ayat-Nya. Apakah hati ini telah keras, tidak luluh dengan lantunan firman-Nya yang jadi panduan kita sehari-hati.

Islam akan menjadikan indah diri kita, menjadikan indah kehidupan kita, menjadikan indah semua langkah ke depan kita

ASAL-USUL PERAYAAN DAN KUE ULANG TAHUN

ASAL-USUL PERAYAAN DAN KUE ULANG TAHUN
Kalian pasti tahu kapan ulang tahun kalian dan berapa umur kalian bersamaan dengan datangnhya hari ulang tahun kalian. Berbeda lho dengan zaman dahulu yang kebanyakan orang tidak tahu kapan dilahirkan.

Saat itu, orang tua tidak mencatat tanggal yang penting tersebut, lantas melupakannya. Saat mereka ditanya, “kapan kau lahir?” ada yang menjawab, “waktu gunung Krakatau meletus!” Atau “waktu zaman Jepang,” dan sebagainya.hehehe lucu juga ya ?

Tapi tahukah kalian, lebih dari 5 ribu tahun yang lalu, tanggal lahir putra-putri Raja Mesir sudah dicatat dan ulang tahun mereka juga dirayakan lho. Begitu juga dengan Babilonia.

Jadi kalau Fir’aun (Raja Mesir)berulang tahun, wah pasti super heboh. Tapi, ulang tahun perempuan tidak dirayakan, kecuali ulang tahun Ratu. Rakyat jelata tidak pernah merayakan ulang tahunnya.

Orang Yunani kuno meniru orang Mesir merayakan ulang tahun. Pada masa itulah mulai muncul kue ulang tahun. Oarng Yunani belajar membuat kue kue manis dari orang Persia.

Orang Yunani pun memperingati ulang tahun dewa dewi mereka. Bahkan ulang tahun dewa-dewi ini diperingati setiap bulan . pada hari ulang tahun Artemis (Dewi Bulan dan Dewi Perburuan, mereka membuat kue besar campur madu. Kue itu dihiasi lilin yang melambangkan cahaya bulan di kegelapan malam.

Anehnya, masa itu pun ulang tahun perempuan dan anak-anak tidak dirayakan. Padahal laki laki dewasa merayakan ulang tahunnya meskipun sudah meninggal beberapa tahun. Oarng Romawi juga menuruti kebiasaan orang Yunani ini. Menjelang keruntuhan Kekaisaran Romawi, orang mulai insyaf kalau pesta pora berlebihan tidak baik. Kemudian, muncul orang orang yang mengajarkan manusia agar hidup sederhana. Lebih baik kekayaan dipakai menolong sesama. Pesta pesta ulang tahun pun menghilang beberapa ratus tahun.

Mulai abad ke-12, di eropa ada gerakan mencatat tanggal lahir semua orang, termasuk kaum perempuan. Manusia menaruh perhatian lagi pada tanggal lahirnya dan mulai merayakan ulang tahunnya. Kue Ulang Tahun muncul lagi. Bukan dimulai oleh kaum bangsawan, melainkan oleh petani petani Jerman. Dari sini, perayaan ulang tahun dilaksanakan secara sederhana dalam keluarga.

Kemudian, anak yang berulang tahun boleh memilih sendiri makanan untuk hari ulang tahunnya. Lalu ketika fajar menyingsing pada hari itu, si anak dibangunkan, ia diberi kue besar dengan lilin menyala yang menancap diatasnya. Jumlah lilin sama dengan jumlah umur si anak.

Nyala lilin itu juga diadopsi dari Kristen yang melambangkan pengorbanan Kristus di tiang salib untuk menebus dosa manusia, itulah filosofi lilin yang rela terbakar untuk menerangi sekitarnya.

PANDANGAN ISLAM TENTANG ULANG TAHUN

Cukup banyak ulama tidak menyetujui perayaan ulang tahun apalagi diadakan tiap tahun. Tentu mereka datang dengan dalil dan hujjah yang kuat. Di antara alasan penolakan mereka terhadap perayaan ulang tahun antara lain:

1. Ulang tahun bila sampai menjadi keharusan untuk dirayakan dianggap sebuah bid’ah. Sebab Rasulullah SAW belum pernah memerintahkannya, bahkan meski sekedar mengisyaratkannya pun tidak pernah. Sehingga bila seorang muslim sampai merasa bahwa perayaan hari ulang tahun itu sebagai sebuah kewajiban, masuklah dia dalam kategori pembuat bid’ah.

2. Ulang tahun adalah produk Barat/ non muslim
Selain itu, kita tahu persis bahwa perayaan uang tahun itu diimpor begitu saja dari barat yang nota bene bukan beragama Islam. Sedangkan sebagai muslim, sebenarnya kita punya kedudukan yang jauh lebih tinggi. Bukan pada tempatnya sebagai bangsa muslim, malah mengekor Barat dalam masalah tata kehidupan.

Seolah pola hidup dan kebiasaan orang Barat itu mau tidak mau harus dikerjakan oleh kita yang muslim ini. Kalau sampai demikian, sebenarnya jiwa kita ini sudah terjajah tanpa kita sadari. Buktinya, life style mereka sampai mendarah daging di otak kita, sampai-sampai banyak di antara kita mereka kurang sreg kalau pada hari ulang tahun anaknya tidak merayakannya. Meski hanya sekedar dengan ucapan selamat ulang tahun.

3. Apakah Manfaat Merayakan Ulang Tahun?
Selain itu perlu juga kita renungkan sebagai muslim, apakah tujuan dan manfaat sebenarnya bisa kitadapat dari perayaan ini? Adakah nilai-nilai positif di dalamnya? Ataukah sekedar meneruskan sebuah tradisi yang tidak ada landasannya? Apakah ada di antara tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang penting dalam hidup ini? Atau sekedar penghamburan uang?

Pertanyaan berikutnya,adakah sesuatu yang menambah iman, ilmu atau amal? Atau menambah manfaat baik pribadi, sosial atau lainnya? Pertanyaan berikutnya dan ini akan menjadi sangat penting, adakah dalam pelaksanaan acara seperti itu maksiat dan dosa yang dilanggar?
Yang terkahir namun tetap penting, bila ternyata semua jawaban di atas positif, dan acara seperti itu menjadi tradisi, apakah tidak akan menimbulkan salah paham pada generasi berikut seolah-olah acara seperti ini ‘harus’ dilakukan? Hal ini seperti yang terjadi pada upacara peringat hari besar Islam baik itu kelahiran, isra` mi`raj dan sebagainya.
Jangan sampai dikemudian hari, lahir generasi yang menganggap perayaan ulang tahun adalah ‘sesuatu’ yang harus terlaksana. Bila memang demikian, bukankah kita telah kehilangan makna?
Kalau menimbang-nimbang pernyataan di atas, ada baiknya kita yang sudah terlanjur merayakan ulang tahun buat anak atau bahkan untuk diri kita sendiri melakukan evaluasi besar.

Sebaliknya, mungkin ada baiknya pemikiran yang disampaikan oleh Dr. Yusuf Al-Qradawi tentang ulang tahun untuk anak. Misalnya, pada saat anak itu berusia 7 tahun, tidak ada salahnya kita ajak dia untuk menyampaikan pesan-pesan dalam acara khusus tentang keadaannya yang kini menginjak usia 7 tahun. Di mana Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada para orang tua untuk menyuruh anaknya shalat di usia itu.
Bolehlah dibuat acara khusus untuk penyampaian pesan ini, agar terasa ada kesan tertentu di dalam diri si anak. Bahwa sejak hari itu, dirinya telah mendapatkan sebuah tugas resmi, yaitu diperintahkan untuk shalat.

Nanti di usia 10 tahun, hal yang sama boleh dilakukan lagi, yaitu sebagaimana perintah Rasulullah SAW untuk menambah atau menguatkan lagi perintah shalat. Kali ini dengan ancaman pukulan bila masih saja malas melakukan shalat. Bolehlah diadakan suatu acara khusus di mana inti acaranya menetapkan bahwa si anak hari ini sudah berusia 10 tahun, di mana Rasulullah SAW membolehkan orang tua memukul anaknya bila tidak mau shalat.

Kira-kira usia 15 tahun lebih kurangnya, ketika anak pertama kali baligh, boleh juga diadakan acara lagi. Kali ini orang tua menegaskan bahwa anak sudah termasuk mukallaf, sehingga semua hitungan amalnya baik dan buruk sejak hari itu akan mulai dicatat. Bolehlah pada hari itu orang tua membuat acara khusus yang intinya menyampaikan pesan-pesan ini.
Jadi bukan tiap tahun bikin pesta undang teman-teman, lalu tiup lilin, potong kue, bernyanyi-nyanyi, memberi kado. Pola seperti ini sama sekali tidak diajarkan di dalam agama kita dan cenderung tidak ada manfaatnya, bahkan kalau mau jujur, justru merupakan cerminan dari sebuah mentalitas bangsa terjajah yang rela mengekor pada tradisi bangsa lain.

Bukankah Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari padanya? Lalu mengapa kita bangsa Islam ini harus mengekor pada tradisi bangsa lain yang jauh lebih rendah?

Minggu, 04 April 2010

Silakan Merokok Jika Ingin Miskin Tujuh Turunan


Ngakunya nggak bisa beli susu atau telur karena nggak punya uang, padahal di tangannya terselip sebatang rokok. Banyak orang miskin yang berusaha melupakan kemiskinannya dengan merokok. Padahal orang miskin tidak sadar bahwa merokok bisa membuatnya terus miskin hingga tujuh turunan. Di pedesaan, rokok sudah menjadi menu sehari-hari selain makanan pokok dan kopi yang selalu harus ada. Menurut hasil survei lembaga demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, besarnya pengeluaran untuk rokok adalah Rp 3.545 per hari atau Rp 106.350 per bulan. Ini setara dengan 26 persen penghasilan buruh tani tembakau per bulan. Dengan kata lain, seperempat upah buruh habis untuk dibakar. Hasil survei juga menunjukkan bahwa 2 dari tiga laki-laki merokok dan perempuan juga sudah meningkat jumlahnya saat ini. "Makanya untuk perempuan tolong cari suami yang syaratnya 'kalau mau menikah dengan saya harus nggak boleh merokok'," ujar Dr Sonny Harry B Harmadi, kepala Lembaga Demografi FEUI dalam acara Peningkatan Cukai Rokok: Antara Kepentingan Ekonomi dan Kesehatan di Hotel Sahid, Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (17/2/2010). Menurut Sonny, Indonesia merupakan negara yang paling terjangkau harga rokoknya di banding negara-negara lain. Proporsi pengeluaran rumah tangga orang Indonesia yang pertama adalah padi-padian dan yang kedua adalah tembakau. Sementara itu susu, telur dan makanan bergizi lainnya berada di urutan ke sekian. "Rokok mengalahkan kebutuhan gizi pada rumah tangga miskin. Cobalah setiap orang punya pikiran 'kalau tidak merokok pasti tidak akan mati lebih cepat'," ujar Sonny. ...sampai usia 12 tahun, seorang anak akan mencontoh dan meniru semua perilaku orangtuanya. Jika orangtua mencontohkan perilaku merokok, perilaku itulah yang akan tertanam di otak si anak dan akhirnya ditiru... Sonny juga memaparkan bahwa harga satu bungkus rokok merek terkenal setara dengan setengah kg telur, 2 kg beras, 1 liter minyak goreng dan lainnya. Jadi sebenarnya orang miskin bisa beli makanan bergizi jika tidak membeli rokok. Makanya sampai ada istilah orang miskin yang merokok akan tetap miskin 7 turunan. "Pertama dia sendiri miskin, tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya, tidak bisa memberi makanan bergizi, lalu anaknya jadi bodoh, tidak bisa mendapat pekerjaan, lalu menghasilkan generasi seperti itu seterusnya hingga tujuh turunan," ujarnya. Asal tahu saja, sampai usia 12 tahun, seorang anak akan mencontoh dan meniru semua perilaku orangtuanya. Jadi jika orangtua mencontohkan perilaku merokok, perilaku itulah yang akan tertanam di otak si anak dan akhirnya ditiru olehnya. Untuk itu dengan meningkatnya cukai tembakau sebesar 15 persen menjadi 44 persen per harga ecerannya pada 1 Januari 2010, diharapkan keluarga miskin dan anak-anak tidak akan membeli rokok dan teracuni oleh rokok. "Tidak adil rasanya jika orang miskin dan anak-anak harus mengeluarkan biaya untuk rokok yang seharusnya bisa dibelikan kebutuhan lain yang lebih bermanfaat. Orang tua tidak apa-apa kalau mau merokok karena generasi mereka akan hilang sebentar lagi, tapi kalau anak-anak sudah merokok, Indonesia bisa mengalami lost generation,"

Rokok Dan Kerugian Negara


Selama ini rokok dibilang sebagai penyumbang devisa terbesar untuk negara padahal nyatanya rokok justru menyumbang kerugian terbesar negara. Kerugian yang ditimbulkan rokok bukan hanya masalah kesehatan saja tapi juga masalah moral dan finansial. Menurut data Depkes tahun 2004, total biaya konsumsi atau pengeluaran untuk tembakau adalah Rp 127,4 triliun. Biaya itu sudah termasuk biaya kesehatan, pengobatan dan kematian akibat tembakau. Sementara itu penerimaan negara dari cukai tembakau adalah Rp 16,5 triliun. "Artinya biaya pengeluaran untuk menangani masalah kesehatan akibat rokok lebih besar 7,5 kali lipat daripada penerimaan cukai rokok itu sendiri. Jadi sebenarnya kita ini sudah dibodohi, sudah tahu rugi tapi tetap dipertahankan dan dikerjakan. Inilah cara berpikir orang-orang tertentu yang bodoh," tutur kata Prof Farid A Moeloek, Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dalam acara Peningkatan Cukai Rokok: Antara Kepentingan Ekonomi dan Kesehatan di Hotel Sahid Jakarta, Rabu (17/2/2010). ...Artinya biaya pengeluaran untuk menangani masalah kesehatan akibat rokok lebih besar 7,5 kali lipat daripada penerimaan cukai rokok itu sendiri. Jadi sebenarnya kita ini sudah dibodohi... Prof Farid mengatakan, rokok adalah pintu gerbang menuju kemaksiatan, penurunan moral dan lost generation. "Tidak ada orang yang minum alkohol, terkena HIV, atau memakai narkoba tanpa merokok terlebih dahulu," kata Prof Farid yang juga mantan menteri kesehatan ini. "Menurut agama saja menghisap rokok adalah kegiatan yang mubazir atau makruh. Memang dilema, di satu sisi negara butuh uang tapi di sisi lain banyak yang dirugikan akibat rokok," tambahnya. Dalam UU Kesehatan No.36 Tahun 2009 disebutkan bahwa nikotin adalah zat aditif, sama halnya dengan alkohol dan minuman keras. "Jadi rokok harusnya juga diperlakukan sama dengan narkoba. Artinya kalau narkotik tidak diiklankan, merokok juga harusnya tidak boleh. Masalah rokok juga harus ditangani secara spesial," ujarnya. Kenaikan cukai tembakau rokok sebesar 15 persen menurut Prof Farid dianggap tidak akan berpengaruh. Pertama, karena rokok mengandung nikotin yang bersifat candu, jadi bagaimanapun juga orang akan terus mencari dan mencari rokok untuk memenuhi kebutuhannya. Kedua, grafik elastisitas rokok bersifat inelastis, jadi kenaikan harga rokok tidak akan terlalu mengurangi konsumsi rokok. Ketiga, pertambahan penduduk terus terjadi dan hal ini memungkinkan semakin banyak orang yang merokok. Untuk itu solusinya adalah, perlu regulasi atau Peraturan Pemerintah (PP) khusus yang mengatur ketat penggunaan rokok. Sebenarnya sudah banyak UU yang mengatur tentang rokok, misalnya UU Kesehatan No 36/2009, UU Penyiaran No 33/1999, UU Perlindungan Anak No 23/2002, UU Psikotropika No 5/1997 dan UU Cukai No 39/2007. "Di situ ada aturannya nikotin harus dibagaimanakan. Tapi karena UU itu berjalan sendiri-sendiri maka tujuannya jadi tidak tercapai. Yang dibutuhkan hanya harmonisasi UU," katanya. Peningkatan cukai rokok juga menurut Prof Farid harus didistribusikan pada kegiatan-kegiatan untuk menangani sektor kesehatan. "Perokoklah yang membayar cukai tembakau sehingga sudah semestinya dana cukai dikembalikan untuk memperbaiki kesehatan masyarakat," ujarnya. (www.voa-islam.com)

RG-UG PPI 96 BLOG's Fan Box

RG-UG PPI 96 BLOG on Facebook